ANALISIS BREAK EVEN POINT
- PENGERTIAN BREAK EVEN POINT
Tujuan utama didirikannya suatu perusahaan adalah mencari keuntungan yang optimal. Untuk itu perusahaan harus menjual barang yang dihasilkan semaksimal mungkin agar didapatkan laba sesuai yang diinginkannya tersebut. Namun demikian, oleh karena sesuatu hal kadang-kadang upaya yang dilakukan perusahaan belum tentu sesuai dengan yang diharapkan, sehigga kemungkinan mengalami kerugian.
Bila perusahaan menghubungkan antara biaya-biaya yang dikeluarkan, laba yang diperoleh, dan volume penjualan akan didapatkan sesuatu suatu analisa yang disebut sebagai cost,profit,volume analysis. Analysis terhadap saling hubungan antara unsure-unsur yang membentuk laba juga sering disebut sebagai analisis break even point. Dasar yang digunakan dalam analisis break even point ini adalah prilaku biaya dalam kaitannya dengan hasil penjualan.
Dalam kaitannya dengan perubahan volume penjualan, ada biaya yang sifatnya berubah-ubah dan perubahannya proposional dengan perubahan voleme penjualan. Biaya yang demikian disebut sebgai biaya variabel. Biaya variabel ini secara total akan berubah dengan perubahan proposional dengan perubahan volume penjulan, tetapi sifat per unitnya bersifat tetap. Termasuk dalam biaya variabel adalah biaya bahan
Sedang jenis biaya yang lain bersifat konstan (tetap) tidak terpengaruh oleh perubahan volume kegiatan, dan secara per unitnya berubah-ubah. Jenis biaya ini disebut sebagai biaya tetap. Masuk dalam kelompok ini adalah biaya penyusutan (bangunan, mesin, kendaraan, dan aktiva tetap lainnya), gaji dan upah yang dibayar secara tetap, biaya lainnya yang besarnya tidaktidak terpengaruh volume penjualan.
Dengan demikian, bila kita mengamati biaya yang dipisahkan dengan fungsi pokok perusahaan, biaya-biaya tersebut bisa kita pisahkan varibilitasnya sebagai berikut :
Biaya variabel biaya tetap
Perusahaan dagang
a. Harga pokok penjualan xxx xxx
b. Biaya pemasaran xxx xxx
c. Biaya admisistrasi & umum xxx xxx
Perusahaan manufaktur
a. Biaya bahan baku xxx xxx
b. Biaya tenaga kerja langsung xxx xxx
c. Biaya overhead pabrik xxx xxx
d. Biaya pemasaran xxx xxx
e. Biaya pemasaran xxx xxx
f. Biaya administrasi & umum xxx xxx
Apabila perusahaan hanya mempunyai biaya variabel saja, maka tidak akan muncul karena perusahaan tersebut. Masalah break even muncul karena perusahaan menggunakan biaya variabel dan biaya tetap. Karena ada unsur biaya variabel disatu pihak dan biaya tetap dilain pihak, maka terjadi bahwa suatu perusahaan dengan volume penjualan tertentu menderita kerugian, karena penghasilan atas penjualannya hanya bisa menutup biaya variabel dan sebagian biaya tetap. Ini berarti berarti bahwa bagian dari penghasilan yang tersedia untuk menutupi biaya tetap, tidak cukup untuk menutupi biaya tetap. Penghasilan dikurangi dengan biaya variabel merupakan bagian dari penghasilan yang tersedia untuk menutupi biaya tetap, dan ini tersebut sebagai contribution margin (kontribusi marjin).
Apabila kontribusi marjin lebih kecil dibanding dengan biaya tetap berarti perusahaan dalam kondisi rugi. Dan bila kontribusi marjinnya lebih besar, berarti perusahaan mendapat laba, sedangkan bila kontribusi marjin sama dengan biaya tetap perusahaan tidak menderita rugidam tidk mendapat labadan kondisi ini yang disebut Breake Even Point. Break even point adalah suatu kondisi dimana pada periode tersebut perusahaan tidak mendapatkan keuntungan dan juga tidak menderita kerugian. Artinya pada perusahaan tidak menda[at keuntungan dan juga tidak mendapat kerugian. Artinya pada saat itu penghasilan yang diterima sama dengan biaya yang dikeluarkan.
Didalam analisis break even point digunakan asumsi-asumsi dasar sebagai berikut :
a. Biaya harus bisa dipisahkan kedalam dua jenis biaya, biaya variabel dan biaya tetap. Bila ada biaya semi variabel harus dialokasikan kedalam dua jenis biaya tersebut.
b. Harga jual perunit tidak berubah selama periode analisis.
c. Perusahaan hanya memproduksi satu macam barang, bila menghasilkan lebih satu macam barang, perimbangan penghasilan masing-masing barang harus tetap.
- METODE PERHITUNGAN BEP
Ada dua cara dalam menentukan break even point, yaitu :
a. Pendekatan Grafik
Salah satu pendekatan penentukan titik break even adalah dengan menggambarkan unsur-unsur biaya dan penghasilan kedalam satu gambar grafik. Pada Grafik tersebut nampak garis-garis biaya variabel, biaya tetap, total biaya, dan garis total penghasilan Grafik BEP akan nampak sebagai berikut:
Contoh 11.1
Perusahaan AR-RIFKI menjual satu macam barang dengan harga per unit Rp 25000,- biaya variabel yang dikeluarkan sebesar Rp 15000,- dan biaya tetapnya selama satu tahun sebesar Rp 300.000.000,-
Dari contoh tersebut bisa digambarkan sebagai berikut :
Q (unit) | Biaya variabel | Biaya tetap | Total biaya | Penghasilan |
0 10,000 | 0 150.000,000 | 300.000.000,- 300.000.000,- | 300.000.000,- 450.000.000,- | 0 250.000.000.000 |
Daerah Laba Total penghasilan
Total biaya
Daerah rugi B. Variabel
BEP
750
300 B. Tetap
![]() |
0 30 0 (00)
Gambar 11.1. grafik break even point
Dari gambar tersebut nampak bahwa break even point tercapai pada saat terpotongan antara garis total biaya dengan garis penghasilan. Yakni sebesar Rp 750.000.000,- dan 30.000 unit. Sebelah kanan BEP terdapat daerah laba dan sebelah kirinya menunjukkan daerah rugi.
b. Pendekatan Matematik
Dalam perhitungan BEP dengan pendekatan matematika dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :
1. Atas Dasar Unit
2. Atas Dasar Rupiah
Seperti pada pengertian BEP bahwa:
· Perusahaan tidak memperoleh laba atau menderita rugi
· Total penghasilan sama dengan total biaya
· Laba sama dengan nol
Oleh karena itu persamaannya adalah
PENGHASILAN = BIAYA
Bila :
P = Harga jual per unit
V = Biaya variabel per unit
BT = Biaya total selama setahun dan
Q = Kuantitas penjualan, maka
P.Q = V.Q + BT
P.Q - V.Q = BT
(P-V) Q = BT
Q = BT
P-V
|
![]() |
Apabila diinginkan BEP dalam rupiah, maka dari fomulasi tersebut dikalikan dengan harganya (P), sehingga
P.Q = BT P
P-V
P.Q = BT
P-V
P
P.Q = BT
P V
P - P
P.Q = BT
V
1- P
|
![]() |
Dari contoh 11.1 diatas bila kita cari break even point-nya akan ditemukan sebagai berikut :
P = Rp 25.000,-
V = Rp 15.000,-
BT = Rp 300.000.000,-
· BEP unit
BEP = 300.000.000
Unit 25.000.000.000
= 30.000 unit
Dari rumus tersebut (P-V) sebenarnya adalah penggunaan konsep kontribusi marjin per unit (selisih harga jual dengan biaya varianel per unit) yaitu sebesar Rp 25.000,- Rp 15.000,- = Rp 10.000,- . karena besarnya biaya tetap Rp 300.000.000,- dan keuntungan untuk menutup biaya tetap (kontribusi marjin) per unit Rp 10.000,- maka untuk menutup seluruh biaya tetap tersebut dibutuhkan penjualan 30.000 unit atau Rp 300.000.000,- / 10.000
· BEP Rupiah
BEP 300.000.000
Rp 15.000 = Rp 750.000,-
1- 25.000
Rumus diatas juga pada dasarnya menggunakan konsep contribution marjin ratio yang besarnya dihitung dari biaya variabel dibagi dengan penjualan. Dari contoh tersebut ratio kontribusi majinnya adalah sebesar =
1- 15.000
25.000 = 1 - 0.6 = 0.4
Contribution marjin ratio 0.4 artinya bahwa setiap perubahan penjualan akan diikuti perubahan biaya variabel 60 %.
Margin of safety
Setelah break even point ditentukan, juga perlu ditentukan batas keamanan penjualan sebagai analisis sentivitasnya terhadap rencana penjualan yakni marjin of safety .
Marjin of safety adalah batas penurunan penjualan yang buisa ditolelir agar perusahaan tidak menderita kerugian. Misalnya marjin of safety ditemukan 30%, artinya realisasi penjualan dipertahankan jangan sampai turun lebih dari 30%. Apabila realisasi penjualan turun lebih dari 30 %, maka perusahaan akan menderita kerugian, sedangkan bila penurunan sampai 30% perusahaan dalam kondisi break even .
Untuk menghitung marjin of safety adalah
![]() |
Misalnya pada contoh diatas tersebut dianggarkan sebesar Rp 1.000.000.000,-, maka marjin of safetynya adalah :
Marjin of safety = 1.000.000.000-750.000.000 x 100 %
1.000.000.000
= 25 %
Artinya bila realisasi penjualan turun lebih besar disbanding 25 %, maka perusahaan akan mengalami kerugian.
- PERUBAHAN TITIK BREAK EVEN POINT
Seperti diuraikan dimuka bahwa dalam analisis break even point ada asumsi yang harus dipenuhi yaitu, harga jual per unit tidak berubah selama periode yang dianalisis, demikian pula halnya dengan biaya variabel per unit dan biaya tetap. Apabila asumsi tersebut tidak terpenuhi, maka titik break even akan mengalami perubahan.
- Perubahan Harga Jual Per Unit
Perubahan harga jual per unit akan mempengaruhi besarnya titik break even. Apabila harga jual per unit naik sementara biaya tidak berubah, maka akan menurunkan titik break even, demikian pula sebaliknya bila harga jual turun, akan menaikkan titik break even.
Contoh 11.2
Perusahaan AGUNG mempunyai srtuktur biaya dan harga jual sebagai berikut :
Harga jual per unit (P) = Rp 20.000,-
Biaya variabel per unit (V) = Rp 12.000,-
Biaya tetap setahun (BT) = Rp 200.000.000,-
Maka :
BEP = 200.000.000 = Rp 571.430.000,-
RP 13.000
Misalnya ada pada periode ini ada kenaikan harga jual menjadi Rp 22.000,- per unit, maka
BEP = 200.000.000 = Rp 440.000.000,-
12.000
1 - 22.000
Dengan demikian, kenaikan harga jual per unit akam menurunkan titik break even. Bila digambarkan akan nampak sebagai berikut :
Rp TR 1
TR 0
TC
FC
Q
Gambar 11.2. BEP dan perubahan harga jual
- Perubahan Biaya Variabel Per Unit
Perubahan pada biaya variabel juga akan merubah posisi titik break even. Yakni apabila biaya variabel naik akan menaikkan titik break even dan bila turun akan menurunkan BEP
Dari contoh 11.2 diatas misal biaya variabel per unit meningkat menjadi Rp 13.000,- per unit, sementara harga dan biaya tetap tidak berubah, maka
BEP = 200.000.000 = Rp 571.430.000
Rp 13.000
1 - 20.000
Sedangkan pada gambar BEP yang yang berubah adalah gambar total cost akan bergeser keatas .
- Perubahan Biaya Tetap
Demikian pula perubahan biaya tetap akan juga merubah posisi BEP menjadi lebih besar bila biaya tetap naik dan akan turun BEPnya bila biaya tetap turun.
Misalnya dalam contoh 11.2 biaya tetap naik menjadi 240.000.000,- per tahun sementara yang lain tidak berubah, maka
BEP = 240.000.000 = Rp 6000.000.000,-
Rp 12.000
1 - 22.000
Pada gambar BEP garis biaya tetap akan bergeser ke atas .
- Perubahan Komposisi sales Mix
Dalam asumsi juga disebutkn bahwa perusahaan hanya menghasilkan lebih dari dua macam prodak, dan bila menghasilkan lebih dari dua macam prodak, maka tidak boleh ada perubahan komposisi dalam sales mix menunjukkanperimbangan penjualan antara beberapa macam prodak yang dihasilkan. Apabila ada perubahan sales mix-nya akan menyebabkan perubahan pada BEP secara total.
Contoh 11.3
PT ALFA menghasilkan dua jenis prodak, X dan Y. Data-data yang ada pada kedua prodak tersebut adalah sebagai berikut :
Keterangan | Prodak X ( 20.000 unit) | Prodak Y ( 8.000 unit ) | Total |
Penjualan Biaya variabel | 500.000.000 300.000.000 | 500.000.000 200.000.000 | 1.000.000.000 500.000.000 |
Kontribusi marjin Biaya tetap | 200.000.000 100.000.000 | 300.000.000 200.000.000 | 500.000.000 300.000.000 |
Laba | 100.000.000 | 100.000.000 | 200.000.000 |
Harga X = Rp 25.000,- dan harga Y = Rp 62.500
Dari data tersebut :
Sales mix = 500.000.000 : 500.000.000 atau 1 : 1
Prodak mix = 20.000 unit : 8.000 unit atau 2.5 : 1
BEP = 300.000.000 = Rp 600.000.000,-
Total 500.000.000
1 - 1.000.000.000
Alokasi BEP pada masing-masing prodak tersebut adalah sesuai dengan komposisinya, yakni perbandingan 1 : 1 untuk penjualannya.
Penjualan prodak X = 1/2 x Rp 600.000.000,- = Rp 300.000.000,-
Penjualan prodak Y = 1/2 x Rp 600.000.000,- = Rp 300.000.000,-
Sedang BEP dalam unitnya adalah
Prodak X = 300.000.000 : 25.000 = 12.000 unit
Prodak Y = 300.000.000 : 62.500 = 4.800 unit
Atau dalam perbandingan = 12.000 : 4.800 = 2.5 : 1
Sama dengan komposisi prodak mix sebesar Rp 600.000.000,- tersebut tidak berarti prodak X mengalami kondisi BEP demikian pula dengan prodak Y juga mengalami BEP. Akan tetapi BEP yang dicapai tersebut merupakan BEP gabungan, sehingga mungkin saja untuk prodak yang satu untung tetapi yang lainnya rugi dan setelah dikompensasi menjadi BEP. Dari contoh diatas kita bisa melihat komposisi laba-ruginya.
Keterangan | Prodak X (12.000 unit) | Prodak Y (4.800 unit) | Total |
Penjualan Biaya variabel | 300.000.000 180.000.000 | 300.000.000 120.000.000 | 600.000.000 300.000.000 |
Kontribusi marjin Biaya tetap | 120.000.000 100.000.000 | 180.000.000 200.000.000 | 300.000.000 300.000.000 |
Laba (rugi) | 20.000.000 | (20.000.000) | 0 |
Bagaimana pengaruhnya apabila terjadi perubahan terhadap komposisi penjualan BEP sales mix ?
a. Bila prodak X naik 50 % prodak Y tetap, maka BEPnya adalah :
Keterangan | Prodak X (30.000 unit) | Prodak Y (8.000 unit) | Total |
Penjualan Biaya variabel | 750.000.000 450.000.000 | 500.000.000 200.000.000 | 1.250.000.000 650.000.000 |
Kontribusi marjin Biaya tetap | 300.000.000 100.000.000 | 300.000.000 200.000.000 | 600.000.000 300.000.000 |
Laba (rugi) | 200.000.000 | 100.000.000 | 300.000.000 |
BEP = 300.000.000 = Rp 625.000.000,-
TOTAL 650.000.000
1- 1.250.000.000
b. Bila prodak Y naik 50 % prodak X tetap, maka BEPnya adalah :
Keterangan | Prodak X (20.000 unit) | Prodak Y (8.000 unit) | Total |
Penjualan Biaya variabel | 500.000.000 300.000.000 | 750.000.000 300.000.000 | 1.250.000.000 600.000.000 |
Kontribusi marjin Biaya tetap | 200.000.000 100.000.000 | 450.000.000 200.000.000 | 650.000.000 300.000.000 |
Laba (rugi) | 100.000.000 | 250.000.000 | 350.000.000 |
BEP = 300.000.000 = Rp 576.923.000,-
TOTAL 600.000.000
1- 1.250.000.000
Dari perhitungan diatas bila bila dibandingkan akan nampak sebagai berikut :
| Sebelum ada perubahan | Prodak X Tambah 50% | Prodak Y Tambah 50% |
Salea mix Keuntungan neto Persentase perubahan keuntungan BEP | 1 :1 200.000.000 600.000.000 | 1,5 :1 300.000.000 50% 625.000.000 | 0,67 :1 350.000.000 75% 576.923.000 |
Dari tabel tersebut nampak penambahan prodak Y lebih menguntungkan dibandingkan penambahan prodak X, sehingga apabila perusahaan akan meningkat penjualan sebaiknya prodak Y yang lebih diutamakan karena akan mendatangkan keuntungan yang lebih besar.
- MANFAAT ANALISIS BEP
Analisis break even ini selain digunakan untuk menganalisis pada unit berapa atau pada omzet penjualan berapa perusahaan tidak menderita rugi dan tidak menerima keuntungan konsep break even point.
1. Perencanaan Penjualan Atau Produksi
Pada setiap awal periode perusahaan sudah harus menpunyai perencanaan produksi dan penjualan. Rencana produksi dan penjualan bisa direncanakan dengan menggunakan konsep BEP. Penjualan yang direncanakan perusahaan tentunya disertai dengan target laba yang diinginkan. Dengan demikian rencana penjualan (penjualan minimal) adalah :
PM = Biaya Variabel + Biaya Tetap + Laba
Atau
Untuk penjualan minimal dalam unit
![]() |
Dan untuk penjualan dalam rupiah
![]() |
\
Contoh 11.4
PT MARINDA sedang merencanakan penjualannya untuk tahun 2000 yang akan datang perusahaan mempunyai kapasitas normal sebanyak 50.000 unit dalam setahun. Pada tahun 2000 nanti perusahaan akan bekerja dengan kapasitas 30.000 unit dengan biaya per unit sebagai berikut :
Biaya Bahan Baku = Rp 7.000,-
Biaya Tenaga Kerja Langsung = Rp 5.000,-
Biaya Overhead Pabrik Variabel = Rp 4.000,-
Biaya Overhead Pabrik Tetap = Rp 5.500,-
Biaya Komersial Variabel = Rp 2.000,-
Biaya Komersial Tetap = Rp 2.500,-
Harga jual ditentukan sebesar Rp 30.000,- per unit.
Diminta :
1. Menghitung BEP
2. Menghitung besarnya penjualan
a. Rp 180.000.000,-
b. 15% dari penjualan
c. 25% dari biaya variabel
3. Menghitung besarnya marjin of safety bila anggaran penjualan seperti pada point 2b diatas.
Untuk menjawab pertanyaan diatas, maka pertama menghitung besarnya biaya variabel per unit dan biaya tetap secara total. Biaya bahan baku dan tenaga kerja langsung merupakan biaya variabel dengan demikian :
Biaya variabel per unit = 7.000 + 4.000 +2.000 = Rp 18.000,-
Biaya tetap total = (5.500 + 2.500) x 30.000 = Rp 240.000.000,-
Harga per unit = Rp 30.000,-
Jawab :
1. Besarnya BEP
BEP 240.000.000 = 20.000 unit
Unit 30.000 – 18.000
BEP 240.000.000 = Rp 600.000.000,-
Rupiah 18.000
1 - 30.000
2.a Besarnya penjualan minimal bila laba Rp 180.000.000,-
PM 240.000.000 + 180.000.000 = Rp 1.050.000.000.000,-
Rp 18.000
1 - 30.000
2.b Penjualan minimal bila laba 15% dari penjualan.
Bila penjualan minimal = X laba diinginkan = 0,15 X
X = 240.000.000 + 0,15% X = Rp 960.000.000,-
18.000
1 - 30.000
2. c Penjualan minimal bila diinginkan laba 25% dari biaya variabel
Bila penjualan minimal Q unit laba = 0,25 (18.000 Q)
Q = 240.000.000 + 0,25 (18.000 Q) = 32.000 unit ,-
30.000 -18.000
3. Marjin of safety dengan anggaran penjualan Rp 960.000.000,-
Marjin of safety = 960.000.000 – 600.000.000 x 100%
960.000.000
= 37,5 %
2. Perencanaan Harga Jual Normal
Salah satu keputusan yang harus diambil oleh manajer keuangan adalah penentuan harga jual. Harga jual merupakan sejumlah uang yang dibayarkan oleh pembeli untuk mendapatkan barang dan jasa yang diinginkan. Bagi perusahaan harga jual harus bisa menutup semua biaya dan target keuntungan. Apabila tidak bisa menutup target laba, apabila biaya yang dikeluarkan berarti perusahaan dalam kondisi rugi.
Dalam membuat rencana harga jual, perusahaan mendasrkan pada proyeksi penjualan yang telah direncanakan, serta target laba pada periode yang bersangkutan.
Contoh 11.5
Perusahaan DONGGALA sedang merencanakan harga jual bagi prodaknya untuk tahun 2000. proyeksi penjualan tahun 2000 sebesar 25000,- dan biay tetap setahun Rp 600.000.000,- bila tahun 2000 ditargetkan laba sebesar Rp 400.000.000,- berapa perusahaan harus menjual produknya per unit ?.
Dari soal tersebut diketahui :
V = Rp 25.000
BT = Rp 600.000.000
Laba = Rp 400.000.000
Q = 50.000 unit
Harga = ?
Q = BT + Laba
P – V
50.000 = 600.000.000 + 400.000.000
P – 400.000.000
P = 2.250.000.000 + 400.000.000 = Rp 45.000,-
50.000
Dengan demikian, harga per unit yang harus ditetapkan sebesar Rp 45.000,- agar mendapatkan keuntungan yang diinginkan.
3. Perencanaan Metode Produksi
Analisa break even ini juga sering digunakan untuk menentukan alternatif pemilihan metode produksi atau mesin produks. Ada mesin produksi yang mempunyai karakteristik biaya tetap rendah tetapi biaya variabel tinggi (sering disebut padat karya), atau biaya tetap tinggi tetapi biaya variabel per unit rendah ( sering disebut padat modal). Dari dua pilihan tersebut, mana yang akan dipilih apakah dengan padat karya (labour intencive) atau padat modal (capital intencive)? Untuk memilih alternatif mana yang terbaik, bisa digunakan analisis biaya,laba, dan volume (cost,profitvolume analysis).
Contoh 11.6
Perusahaan sedang merencanakan untukmendirikan usaha dengan mesin produksi. Ada dua alternatif mesin produksi yang bisa dipilih dengan karakteristik masing-masing mesin sebagai berikut :
Mesin A Mesin B
Harga jual per unit Rp 20.000,- Rp 20.000
Harga variable per unit Rp 12.000,- Rp 10.000
Biaya tetap setahun Rp 400 juta Rp 800 juta
Mana yang sebaiknya dipilih oleh perusahaan ?
Apabila menggunakan dasar BEP, maka mesin padat karya (mesin A) akan selalu lebih baik, sebab BEPnya lebih rendah dibandingkan dengan padat modal (mesin B). BEP dalam unit bisa dihitung sebagai berikut :
BEP mesin A = 400.000.000 = Rp 50.000 unit
20.000 – 12.000
BEP mesin B = 800.000.000 = Rp 80.000 unit
20.000 – 10.000
Dengan demikian bila perusahaan menjual 75.000 unit, untuk mesin A sudah mendapat laba karena penjualannya diatas BEP, sedangkan mesin B masih menderita rugi karena dibawah titik BEP. Namun apabila kemampuan penjualannya besar apakah mesin A tetap lebih baik? Jawabannya belum tentu.
Untuk menentukan mesin mana yang sebaiknya dipilih, sebaiknya menentukan titik indifferent profit yaitu unit penjualan yang dapat menyamakan laba antara bila memilih mesin A atau mesin B, artinya pada penjualan indifferent profit laba dengan mesin A sama dengan mesin B. Indifferent profit tercapai bila biaya dengan mesin A sama dengan biaya dengan mesin B.
Bila Indifferent Profit = Q unit
Biaya A = Biaya B
400.000.000 + 12.000 Q = 800.000.000 + 10.000 Q
2.000 Q = 400.000.000
Q = 200.000 unit
Pada penjualan 200.00 unit inilah laba yang didapat dengan mesin A sama dengan mesin B.
Keterangan | Mesin A | Mesin B |
Penjualan Biaya variabel | 4.000.000.000 2.400.000.000 | 4.000.000.000 2.000.000.000 |
Kontribusi marjin Biaya tetap | 1.600.000.000 400.000.000 | 2.000.000.000 800.000.000 |
laba | 1.200.000.000 | 1.200.000.000 |
Dari perhitungan ternyata laba mesian A atau mesin B sama, artinya semakin besar volume penjualan mesin semakin baik. Indifferent profit inilah nantinya sebagai pedoman mana alternatif mesin yang sebaiknya dipilih. Bila kemampuan penjualan lebih besar dibanding dengan indifferent profit sebaiknya memilih mesin B (padat modal) sebaliknya bila kemampuan penjualan lebih kecil dibandingkan dengan Indifferent profit sebaiknya memilih mesin A (padat karya). Kemampuan penjualan bisa bisa diukur dari proyeksi penjualan yang telah disusundalam rencana proyek atau study kelayakan. Untuk membuktika, mana yang lebih baik bila penjualan mencapai 250.000 unit.
Keterangan | Mesin A | Mesin B |
Penjualan Biaya variabel | 5.000.000.000 3.000.000.000 | 5.000.000.000 2.500.000.000 |
Kontribusi marjin Biaya tetap | 2.000.000.000 400.000.000 | 2.500.000.000 800.000.000 |
laba | 1.600.000.000 | 1.700.000.000 |
Ternyata mesin B menghasilkan keuntungan lebih besar dibanding dengan mesin A. Hsl ini karena volume penjualannya lebih besar dibanding indifferent profit. Bila digambarkan dalam grafik akan nampak sebagai berikut :
IP
Q
0 200.000 unit
Gambar 11.3. Grafik Indifferent Profit
4. Titik Tutup Pabrik
Apabila kondisi perusahaan sudah menunjukkan biaya total melebihi penjualan totalny, yang artinya bahwa perusahaan beroperasi dibawah titik break even, apakah perusahan sebaiknya ditutup atau tetap dipertahankan. Untuk itu manajemen harus menganalisis apakah kondisi yang demikian akan berlanjut dalam waktu relatif lama, atau tidak. Ada kemungkinan manajemen harus memutuskan untuk menghentikan sementara atau seterusnya apabila kondisi sudah sedemikian parahnya.
Alat yang dapat digunakan manajemen dalam mengadakan anlisis penutupan perusahaan tersebut adalah analisis titik tutup pabrik atau sering disebut shut down point. Apabila perusahaan beroperasi dibawah BEP berarti perusahaan secara akuntansimengalami kerugian. Namun secara cahflow atau aliran khas perusahaan masih mendapatkan sisa kas, selama penerimaan penghasilan masih bisa menutup biaya variabel dan biaya tetap tunai. Biaya tetap tunai adalah biaya tetap yang dikeluarkan secara tunai seperti pembayaran gaji, biaya promosi, sewa gedung, dan biaya tetap tunai lainnya. Artinya pada kondisi tersebut perusahaan masih bisa membayar gaji karyawannya, walaupun untuk menutup biaya tetap tidak tunai (penyusutan) tidak mencukupi. Tetapi kalau penerimaan penjualan tidak bisa menutup biaya variabel dan biaya tetap tunai, maka perusahaan sudah harus ditutup.
|
![]() |
Shut down point merupakan pedoman bagi manajemen untuk memutuskan apakah perusahaan diterukan atau dihentikan. Apabila penerimaan penjualan masih lebih tinggi dibanding shut down point sebaiknya perusahaan tetap beroperasi, tetapi bila penjualan sudah lebih kecil dibanding shut down point sebaiknya perusahaan ditutup, sebab untuk membayar gaji atau sewa sudah tidak mampu lagi.
Contoh 11.7
Perusahaan ABC menjual prodaknya dengan harga 20.000,- per unit, biaya variabel Rp 12.000,- per unit, dan biaya tetap sebesar Rp 300.000.000,-(60% biaya tetap tunai).
Maka
BEP = 300.000.000 = Rp 750.000.000,-
0,4
Pada kondisi BEP tersebut secara akuntansi perusahaan tidak laba dab tidak rugi, tetapi secara cashflow mendapatkan laba tunai, yakni :
Penjualan
Biaya variabel Rp 450.000.000,-
Biaya tetap tunai (60% x 300 juta) Rp 180.000.000,-
Rp 630.000.000
Laba tunai Rp 120.000.000
Sedangkan shut down point adalah :
SDP = 60% x 300.000.000 = Rp 450.000.000,-
0,4
Pada saat shut down point, secara akuntansi perusahaan mengalami kerugian tetapi secara cashflow perusahaan tidak menerima laba tunai, seperti perhitungan dibawah ini :
Penjualan Rp 450.000.000,-
Biaya Variable Rp 270.000.000,-
Biaya tetap tunai Rp 180.000.000,-
Rp 450.000.000,-
Laba tunai Rp 0,-
Rp TR
TC
750 BEP
700
BT
300 SDP
180
BT tunai
![]() |
Gambar 11.4 Grafik Even Point
- SOSIAL PENELITIAN
Soal satu
PT YUDHATAMA pada tahun 2000 merencanakan akan memproduksi barang jadi sebanyak 40.000 unit. Rencana biaya yang akan dikeluarkan dalam rangka memproduksi barang tersebut adalah sebagai berikut:
Biaya Bahan Baku Rp.480.000.000,-
Biaya tenaga kerja langsung Rp.320.000.000,-
Biaya Overhead pabrik variabel Rp.240.000.000,-
Biaya Overhead pabrik Tetap Rp. 300.000.000,-
Biaya Operasi Variabel Rp. 100.000.000,-
Biaya Operasi Tetap Rp. 60.000.000,-
Harga produk tersebut ditetapkan sebesar Rp.50.000,-per unit
Diminta:
1. Meghitung BEP
2. Menghitung penjualan minimal bila diinginkan laba
a. Rp. 240.000.000,-
b. 10% dari penjualan
3. Margin of safety bila anggaran penjualan sebesar Rp.1.250.000.000,-
Jawab:
Biaya variable per unit (V) = (480.000.000 + 320.000.000 + 240.000.000 + 160.000.000): 40.000=Rp.30.000,-
Biaya tetap = 300.000.000 + 60.000.000 = Rp.360.000.000,-
Harga (P) = Rp. 50.000,-
1. Menghitung BEP
BEPunit = 360.000.000 = 18.000 unit
50.000 – 30.000
BEP unit = 360.000.000 = Rp 900.000.000,-
20.000
50.000
2. Menghitung besarnya penjualan minimal bila
a. Laba Rp 240.000.000,-
PM = 360.000.000 + 240.000.000 = Rp 1.250.000.000,-
Rp 20.000
1- 50.000
b. Laba 10% dari penjualan
Bila penjualan minimal = X laba dinginkan = 0.1 X
X = 360.000.000 + 0.1X = Rp 1.200.000.000,-
30.000
1 – 50.000
3. Marjin of safety dengan anggaran penjualan Rp 1.250.000.000,-
Marjin of safety = 1.250.000.000 – 900.000.000 x 100%
1.250.000.000
= 28 %
Soal Kedua
PT LOKASARI pada tahun 1999 mampu menjual prodaknya sebesar 24.000 unit dengan harga Rp 32.500,- per unit Rp 19.000,-. Pada tahun tersebut perusahaan dalam kondisi BEP. Pada tahun 2000 perusahaan akan meningkatkan kinerjanya agar dapat dihasilkan keuntungan yang optimal. Untuk itu perusahaan akan menambah biaya promosi sebesar Rp 76.000.000,- dan akan memberikan bonus pada tenaga pemasaran dan pengeceran sebesar Rp 2.000,- per unit. Dan harga juga akan di naikkan menjadi Rp 35.000,- per unitnya.
Dimimta :
a. Menghitung BEP
b. Menghitung besarnya penjualan minimal bila diinginkan laba Rp 320.000.000
c. Kapan perusahaan harus ditutup bila biaya tetap diatas 60% merupakan biaya tetap tunai.
Jawab :
Tahun 1999 penjualan dalam kondisi BEP
P = Rp 32.500
V = Rp 19.000
Q = 24.000 unit
24.000 = BT
32.500 – 19.000
BT = 24.000 x Rp 13.500,- = Rp 324.000.000,-
Tahun 2000
V = Rp 19.000 + Rp 2.000,- = Rp 21.000.000
P = Rp 35.000,-
BT = Rp 324.000.000,- + Rp 76.000.000,- = Rp 400.000.000,-
a. Besarnya BEP
BEP = 400.000.000 = Rp 1.000.000.000,-
Rp 21.000
1 - 35.000
b. Penjualan minimal dengan laba Rp 320.000.000,-
PM = 400.000.000 + 320.000.000 = Rp 1.800.000.000,-
21.000
1- 35.000
c. Titik tutup pabrik atau shut down point
Biaya tetap tunai = 60% x Rp 400.000.000,- = Rp 240.000.000,-
SDP = 240.000.000 = Rp 600.000.000,-
21.000
1- 35.000
Soal Ketiga
Perusahaan SHINTA memproduksi 2 jenis prodak yakni prodak A dan prodak B. Anggaran kedua prodak tersebut pada tahun yang akan datang sebagai berikut :
Prodak A
Penjualan = 10.000 unit @ Rp 20.000,- = Rp200.000.000,-
Biaya variable = Rp 70.000.000
Biaya tetap = Rp 90.000.000
= Rp160.000.000,-
Laba Rp 40.000.000,-
Prodak B
Penjualan = 12.500 unit @ Rp 16.000,- = Rp200.000.000,-
Biaya variable = Rp 90.000.000,-
Biaya tetap = Rp 90.000.000,-
= Rp180.000.000,-
Laba Rp 20.000.000,-
Diminta :
a. Hitunglah BEP sales mix
b. Mana yang sebaiknya ditempuh perusahaan dalam menaikkan volume penjualan. Menaikkan produk A 25% sementara produk B tetap atau menaikkan produk B 25% sementara produk A tetap.
Jawab :
a. Menghitung BEP sales mix
b. Kebijaksanaan menaikkan penjualan.
Produk A ditingkatkan 25%, produk B tetap
Keterangan | Prodak A (12.500 unit) | Prodak B (12.500 unit) | Total |
Penjualan Biaya variabel | 250.000.000 87.500.000.000 | 200.000.000 90.000.000 | 450.000.000 177.500.000 |
Kontribusi marjin Biaya tetap | 162.500.000 90.000.000 | 110.000.000 90.000.000 | 272.500.000 180.000.000 |
Laba | 72.500.000 | 20.000.000 | 92.500.000 |
BEP yang baru setelah ada kenaikkan
BEP = 180.000.000
177.500.000
1 - 450.000.000.000
= Rp 297.247.706,-
Prodak B ditingkatkan 25% prodak A tetap.
Keterangan | Prodak A (12.500 unit) | Prodak B (12.500 unit) | Total |
Penjualan Biaya variabel | 200.000.000 70.000.000 | 250.000.000 112.500.000 | 450.000.000 187.500.000 |
Kontribusi marjin Biaya tetap | 130.000.000 90.000.000 | 137.500.000 90.000.000 | 262.500.000 180.000.000 |
Laba | 40.000.000 | 47.500.000 | 82.500.000 |
BEP sales mix yang baru adalah :
BEP = 180.000.000
187.500.000
1 - 450.000.000.000
= Rp 308.571.429,-
Dengan demikian maka lebih baik meningkatkan penjualan prodak A karena akan mendapatkan laba perusahaan secara keseluruhan dan titik BEP nya bisa lebih kecil.
- SOAL-SOAL LATIHAN
1) Pada tahun ini PT. INTAN mampu menjual prodaknya sebesar 40.000 unit dengan harga Rp 17.500,- per unit, biaya variabel per unit Rp 9.000,-. Pada penjualan sebesar 40.000 unit tersebut perusahaan sudah mendapatkan laba sebesar Rp 20.000.0000,-. Pada tahun depan perusahaan akan berupaya meningkatkan penjualannya agar keuntungan juga bisa ditingkatkan. Untuk itu perusahaan akan menambah biaya promosi sebesar Rp 80.000.000,- dan akan memberikan intensif pada tenaga pemasaran dan pengeceran sebesar RP 1.800,- per unit. Dan harga juga akan dinaikkan menjadi 18.000,- per unitnya.
Diminta :
a. Menghitung BEP
b. Menghitung besarnya penjualan minimal bila diinginkan
- laba Rp 300.000.000,-
- laba 15% dari penjualan
c. Marjin of safety bila anggaran penjualan ditetapka seperti 2b.
d. Kapan perusahaan akan ditutup bila biaya tetap 60% merupakan biaya tetap tunai.
2) CV. ANGGOTA pada tahun 2000 merencanakan akan memproduksi barang jadi sebanyak 25.000 unit. Rencana biaya yang akan dikeluarkan dalam rangka memproduksi barang tersebut per unitnya adalah sebagai berikut :
Biaya Bahan Baku Rp 7.000,-
Biaya tenaga kerja langsung Rp 6.000,-
Biaya overhead pabrik variabel Rp 4.000,-
Biaya overhead pabrik tetap Rp 6.000,-
Biaya operasi variabel Rp 3.000,-
Biaya operasi tetap Rp 2,000,-
Harga produk tersebut ditetapkan sebesar Rp 32.000,- per unit.
Diminta :
a. Menghitung BEP
b. Menghitung besarnya penjualan minimal bila diinginkan laba
1. Rp 100.000.000,-
2. 12.5% dari penjualan
c. Marjin of safety bila anggaran penjualan seperti point 2a
3) Perusahaan ABC sedang merencanakan untuk mendirikan cabangnya dikota lain. Untuk itu perlu [eralatan untuk mendukung produksinya. Ada dua alternative mesin produksi yang bisa dipilih dengan karakteristik masing-masing mesin sebagai berikut :
Mesin X Mesin Y
Harga jual per unit Rp 60.000,- Rp 60.000,-
Biaya variabel per unit Rp 50.000,- Rp 35.000,-
Biaya tetap setahun Rp 500 juta Rp 950 juta
Mana yang sebaiknya dipilih oleh perusahaan ?
4) PT. BHINEKA memproduksi dua macam barang yaitu barang X yang dijual dengan harga Rp 14.000,- per unit dan barang Y dengan harga jual Rp 20.000,- per unit. Rencana penjualn untuk masing-masing prodak tersebut adalah barang X sebesar 40.000 unit.
boleh minta tidak dlm bentuk word? karena rumusnya menjadi tidak terlihat..
BalasHapusakan sangat membantu saya sekali..
mohon bantuannya
email saya dwijatemaja@gmail.com
terima kasih banyak
Saya membutuhkan materi ini. boleh saya minta filenya sebab grafik dll ada yang tidak terlihat. ini email saya ernawati1405@gmail.com
BalasHapusterimakash...
pak saya boleh minta file nya dalam bentuk word? disini tidak nampak jelas simbol2 dan grafiknya. terima kasih sebelumnya
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Hapusgmail saya mumpuniannisa@gmail.com
Hapusmohon soft copy nya ya gan ke nurmiyatisaleh@gmail.com
BalasHapusmakasih
mohon minta filenya ke email saya salmaaak16@gmail.com
BalasHapusassalamualaikum bang mau tanya yg soal kedua itu rumusnya pake yg mana ya
BalasHapusMinta bang
BalasHapusKirim soffile pak fasaaqilunaza.pokle17@gmail.com
BalasHapus